SELAMA
ini tak sedikit di antara pemilik sepeda motor yang meningkatkan tenaga
tunggangan mereka dengan bore up. Caranya, dengan mengganti ukuran piston agar volume bahan bakar dan udara yang disemprotkan ke ruang
bakar bertambah besar.
Walhasil,
pembakaran semakin sempurna dengan perbandingan rasio kompresi yang
tinggi. Cara seperti itu dipilih banyak modifikator dan pemilik
sepeda motor. Pasalnya, selain praktis, ongkos yang harus dikeluarkan juga
lebih murah.
Hanya, tidak sedikit pula yang tidak mendapatkan hasil seperti yang
diharapkan. Selain tenaga tidak meningkat drastis, juga menyimpan
potensi bahaya.
"Tenaga memang meningkat, tetapi hanya 20-30 persen. Padahal kalau
caranya tepat, tenaga bisa meningkat 50-70 persen. Selain itu kalau
tidak tepat mesin justru rusak," papar Setyawan, mekanik Awan
Motor,
Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Lantas apa saja yang harus diperhatikan? Langkah apa yang harus dilakukan? Berikut tips dari Setyawan.
1. Pastikan diameter silinder sesuai
Satu hal yang wajib diperhatikan sebelum melakukan bore up adalah
memastikan batas maksimum diameter silinder bila diperbesar.
Teknik bore up ada dua macam, yaitu bore up dengan silinder orisinal yang
diperbesar diameternya.
Teknik kedua dengan mengganti liner silindernya. Jika ingin mengganti
liner silinder, maka perlu diperhatikan batas aman
bore up, sehingga
tidak ada komponen atau bagian lain dari mesin yang harus dikorbankan
sia-sia demi memperbesar silinder.
"Hal itu penting diperhatikan karena masing-masing jenis maupun merek
sepeda motor memiliki ketebalan yang berbeda," kata Setyawan.
Bila diameter
silinder tidak memungkinkan untuk diperbesar dan
dipaksakan, bukan tidak mungkin akan jebol. Tentu hal itu sangat
membahayakan.
2. Hitung kembali kapasitas mesin
Setelah memastikan ketebalan
silinder yang memungkinkan untuk
diperbesar, langkah selanjutnya adalah menghitung ulang kapasitas isi
mesin atau cc mesin motor. Lakukan penghitungan - tentunya minta tolong
orang yang ahli atau paham mesin - berapa besar volume ruang bakar yang
ada.
Kemudian, hitung hingga seberapa besar kemampuan ruang tersebut bila
dilakukan peningkatan kapasitas. "Selama ini, yang umum para
modifikator
melakukan penambahan mulai 0,25 milimeter (mm) hingga 1 mm," terang
Setyawan.
Langkah ini harus dilakukan ekstra hati-hati dan cermat. Pasalnya bila
serampangan, maka kapasitas ruang bakal justru berukuran terlalu besar.
Akibatnya, ruang pembakaran menghasilkan suhu panas yang berlebihan,
sehingga piston macet atau bahkan blok silinder pecah.
Bila hal itu terjadi maka motor akan berhenti tiba-tiba saat dipacu
kencang dan terpelanting. Mesin pun terbakar dan bisa menjalar ke
seluruh bagian kendaraan itu.
3. Hitung kembali secara cermat rasio panas mesin dan kompresi
Setelah kedua langkah dilakukan dan mekanik atau
modifikator menyatakan
oke,langkah selanjutnya adalah menghitung rasio panas mesin dan rasio
kompresi.
Maksudnya mengetahui secara persis berapa tekanan dalam ruang
pembakaran dibanding kecepatan asupan bahan bakar, turbulensi udara,
campuran antara udara dan bahan bakar yang ideal.
"Tekanan
kompresi adalah tekanan efektif rata-rata yang terjadi di ruang bakar tepat di atas piston," tandas Setyawan.
Bila tekanan kompresi dan tekanan panas yang ideal di mesin - biasanya
bengkel besar menggunakan alat ukur
compression gauge untuk
mengetahuinya - telah diketahui, dan memungkinkan untuk dilakukan
bore up maka mekanik bisa melakukannya.
Ukuran ideal tingkat panas dan kompresi untuk masing-masing jenis dan
merek motor berbeda-beda. Pabrikan biasanya memberikan batasan dengan
mencantumkan ukuran Titik Mati Atas (TMA) dari tingkat panas ruang
bakar, dan mencantumkan tingkat kompresi mesin di buku manual.
Ingat, ruang bakar yang terlalu besar dari standar yang ditetapkan oleh
pabrik juga tidak akan bagus. Selain boros juga menimbulkan panas yang
terlalu tinggi sehingga piston macet dan blok silinder pecah atau jebol.
Selama ini para modifikator untuk motor balap di jalanan kerap memangkas
kepala piston untuk meningkatkan kompresi mesin. Besarannya bervariasi,
untuk motor dua tak biasanya 1-2 mm, dan motor empat tak 0,5-1mm.
Sumber : tempointeraktif.com